+ -

Pages

Search This Blog

Quote Today

"By the power of truth, I while living have conquered the universe"

Friday, January 11, 2013

Menjadi Dosen Kalkulus

-->
Pernyataan “tak pernah terbayangkan menjadi seorang dosen” mungkin kurang tepat untuk saya. Karena terbesit keinginan suatu hari saya menjadi seorang pendidik (guru, dosen, mentor, dll). Terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa penulisan ini adalah evaluasi saya terhadap pengajaran kelas Kalkulus dan Aljabar Linear yang saya terima di semester 3 ini. Tidak tepat juga sebagai ajang curhat dengan segala hal yang mungkin ada kurang, menurut saya itu wajar. Karena menurut saya apa yang saya terima sudah baik sekali. Mungkin ini hanya sekedar harapan saja bahkan ngimpi yang belum tentu berdasar, karena saya belum pernah merasakan menjadi dosen, semua cuma berdasarkan sudut pandang saya sebagai mahasiswa.
                Sedikit ngalor-ngidul, tertekan mungkin perasaan yang tepat untuk cukup banyak pelajar dan mahasiswa yang belajar di Indonesia. Dari SD, SMP, SMA, kita dipaksa menerima semua pelajaran dengan nilai yang harus sempurna juga, kita dituntut ini-itu. Akhirnya sampai kuliah kita tidak sempat meng-eksplor diri, “mau apa sih? mau kemana, mau jadi apa sih saya?” dampaknya kurang semangat ketika masuk dunia perkuliahan, sehingga belajar tidak bersemangat.
Kunci utamanya bukan terletak pada bagaimana cara dosen memberikan materi, tapi bagaimana mahasiswa di didik cara mendapatkan materi dikelas maupun tanpa terbatas lewat kelas saja. Bukan pula bagaimana mahasiswa agar belajar, tapi bagaimana mahasiswa mengerti cara belajar sebagai seorang mahasiswa. Intinya metode belajar yang saya tawarkan bagaimana mahasiswa suka dengan Kalin dan menjadikannya sebagai kebutuhan.
                Sudah 3 semester saya belajar di Jurusan Sistem Informasi. Saya menemukan beberapa dosen yang mungkin bisa dijadikan rujukan tentang bagaimana cara mengajar yang baik. Pertama Bapak Hatma Suryotrisongko, beliau punya metode belajar yang cukup berbeda dengan yang lain. beliau pandai dalam menguasai jalannya kelas, mengatur alur kelas secara professional, waktu belajar di plot-plot berdasarkan materi apa yang perlu disampaikan, sekian menit untuk mempelajari a, sekian menit untuk mempelajari b, dst. Ketika belajar dengan beliau saya selalu fun dan merasa harus belajar bukan terpaksa belajar. Rujukan kedua mungkin bapak Tony Dwi Susanto, beliau hebat dalam menyusun materi belajar, alur belajar yang beliau bawakan selalu dimulai dari yang namanya “konteks” dan tujuan belajar. Sehingga memang saya jadi tau kenapa harus belajar, akan dapat apa sih. Selain itu PPT yang dia bawakan sangat sarat akan prinsip Human Computer Interaction, sehingga materi lebih mudah diterima oleh mahasiswa. Yang ketiga adalah Bapak Nisfu Asrul Sani, yang berkesan dari beliau adalah cara mengajar yang tidak menyeramkan, saya bebas bertanya, dan bebas salah. Akhirnya timbul rasa ingin tau, bertanya ini-itu. Mungkin cara belajar yang ideal menurut saya adalah gabungan dari ketiga dosen yang saya ceritakan.
                Harapan terakhir dari saya adalah pendidikan yang sarat akan kejujuran dan kekeluargaan. Berdasarkan ujian-ujian kemarin saya melihat banyak yang masih saling tanya, mencontek, bekerja sama, kurang baik lah seperti itu. Menurut saya di Indonesia itu sudah banyak orang kaya, orang pintar dan pemimpin yang hebat tapi keadaan negara menggambarkan bahwa sedikit orang yang berakhlak. Lalu kekeluargaan maksudnya ketika ada mahasiswa bermasalah baiknya diajak bicara 4 mata secara langsung dengan dosen pengajar, mungkin tiap mahasiswa keluhannya beda dharapkan dosen bisa membantu memberikan solusi dan semangat.
                Terimakasih saya sampaikan kepada seluruh dosen kalin, sejauh ini saya merasakan apa yang diberikan sudah sangat baik, doakan saya semoga menjadi generasi penerus yang berkualitas sesuai dengan harapan ibu/bapak dosen. Semoga berkenan.
5 The Janissaries: Menjadi Dosen Kalkulus --> Pernyataan “tak pernah terbayangkan menjadi seorang dosen” mungkin kurang tepat untuk saya. Karena terbesit keinginan suatu har...

No comments:

Post a Comment

< >