+ -

Pages

Search This Blog

Quote Today

"By the power of truth, I while living have conquered the universe"

Wednesday, June 19, 2013

"Menyembah" atau "Beribadah"?

Iyyaka na’budu wa iya ka nastaiin, hanya kepada Engkaulah kami "menyembah" dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan (QS Al-Fatihah:5)

Tidak semua ejaan dalam bahasa arab bisa diterjemahkan secara sempurna kedalam bahasa Indonesia, seperti yang terdapat pada surat Al-Fatihah ayat 5, terutama iyyaka na’budu yang sering diartikan “hanya kepada Engkaulah kami menyembah”. Kalau menggunakan kata “menyembah” mungkin hanya terkesan bahwa sebagai seorang manusia ciptaan Allah kita diperintahkan menyembah secara ritual, maksudnya kalau dengan kata “menyembah” ya berarti kewajiban manusia hanya terkait hal-hal ritual saja seperti solat, puasa, dll yang sifatnya vertikal (langsung kepada Allah).

Namun sebenarnya maksud Al-Qur’an bukan kesana saja, memang secara kebetulan sulit menemukan kata dari bahasa Indonesia yang pas untuk menggantikan kata “menyembah”. A’budu itu sebenarnya lebih kepada kata serapan bahasa arab ke bahasa Indonesia yaitu “beribadah”, "beribadah" bukan hanya “menyembah”. Beribadah itu ya luas bisa secara vertikal maupun horizontal. Nah.. secara horizontal ini banyak jalannya, Allah membuka jalan ibadah untuk setiap ummatnya dengan banyak cara. Lihatlah Rasulullah SAW beliau adalah seorang utusan Allah yang pada hakikatnya manusia biasa seperti kita. Rasulullah SAW adalah seorang anak, ayah, suami, pengusaha, ulama bahkan beliaupun merupakan seorang pemimpin Negara. Begitulah Allah SWT menyediakan banyak jalan kebaikan untuk hambanya. Bukan berarti orang yang paling banyak amalnya adalah mereka yang paling banyak berdiam di masjid, solat, mengaji, puasa dan lain-lain. Tapi Allah pun memberi penilaian terhadap semua usaha manusia yang ditujukan untuk kebaikan, untuk “beribadah” itu tadi. Tentunya semua itu harus dilandasi rasa keikhlasan karena sarat mutlak diterimanya ibadah adalah ketika ibadah hanya ditujukan untuk mengharapkan ridho Allah SWT. Contoh simple-nya saja misalnya seorang blogger atau penulis menulis sesuatu, menghias blog, membagus-baguskan hasil karyanya dengan hanya untuk mengharap pujian manusia supaya dianggap keren, pintar, penulis berbakat, dan pujian-pujian lainnya itu bukan dianggap sebagai bentuk ibadah, bahkan bisa menjadi dosa karena hanya untuk penilaian manusia.
5 The Janissaries: 2013 Iyyaka na’budu wa iya ka nastaiin, hanya kepada Engkaulah kami "menyembah" dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan (Q...

Friday, June 14, 2013

Sukses, kemana perginya engkau?

Terinspirasi dari sebuah kisah di zaman Rasulullah SAW, kisah seorang sahabat bernama Tsa’labah. Tsa’labah adalah seorang muslim yang taat namun miskin keadaannya. Pada suatu hari Tsa’labah mengunjungi Rasulullah SAW untuk minta didoakan agar menjadi orang berharta, namun Rasulullah SAW berulang kali menolak mendoakan Tsa’labah. Karena Tsa’labah terus meminta kepada Rasulullah SAW untuk didoakan maka akhirnya Rasulullah SAW mendoakannya agar menjadi orang yang berharta. Tidak lama setelah itu datanglah keajaiban, ternak milik Tsa’labah berkembang dengan sangat cepat. Dalam waktu yang cukup singkat, kota menjadi ramai dengan kambing-kambing ternak milik Tsa’labah yang jumlahnya kini sangat banyak. Singkat cerita Tsa’labah kesulitan merawat ternak-ternaknya sampai akhirnya perlahan Tsa’labah mulai meninggalkan solat jamaah di masjid, fatalnya setelah sekian lama Tsa’labah sampai pernah meninggalkan solat.
Ada hikmah yang bisa diambil dari setiap kisah. Pernahkah kita bertanya-tanya kenapa seringkali seseorang atau bahkan kita sendiri sulit menjadi orang yang sukses? Coba direnungkan, mungkin bukan karena Allah Yang Maha Pengasih tidak ingin memberikan kita kesuksesan, boleh jadi karena memang kita belum sanggup menerima kesuksesan tersebut. Bisa saja ketika atas karunia Allah kita dijadikan orang yang sukses, kita malah lupa kepada-Nya. Allah takut kita disibukan dengan hal-hal duniawi yang tiada ujungnya, didalam hati kita hanya ada harta, tahta, eksistensi, beserta segala kemewahan dunia padahal disisi Allah-lah tempat kembali kita, tanpa sedikitpun sesuatu dari dunia untuk dibawa kecuali amalan baik. Buat mahasiswa yang kuliah ataupun yang kini sedang bekerja, tidak perlu bingung ketika belum mencapai kesuksesan akademiknya ataupun kesuksesan karirnya. Barangkali memang kita belum siap untuk sukses, Allah takut kita lupa terlalu jauh. Jadi pastikan diri kita siap dulu menerima kesuksesan sebelum menuntut sukses.
5 The Janissaries: 2013 Terinspirasi dari sebuah kisah di zaman Rasulullah SAW, kisah seorang sahabat bernama Tsa’labah. Tsa’labah adalah seorang muslim yang taat ...

Thursday, April 18, 2013

Sebenarnya Kaya - Kisah Pedagang Soto

Menjadi kaya adalah impian setiap orang. Setiap orang memimpikan hidup yang sukses dan memiliki banyak harta. Di zaman materialis ini sudah jelas jumlah harta sering menjadi pembanding dan menjadi penilaian eksistensi seseorang. Namun hari ini saya diingatkan sekali lagi bahwa menjadi kaya yang sesungguhnya tidaklah melulu soal harta, tetapi kaya diri, kaya hati.

Pagi hari seperti biasa setelah solat subuh dan dzikir al-ma'tsurat saya sesekali menyempatkan diri untuk sarapan di warung soto bu.. panggil saja bu Aminah. Bu Aminah adalah pedagang nasi soto dan pecel di depan sebuah SD-SMP di kota Surabaya. Sederhana, tenda kayu berukuran 2 x 2 meter dengan beberapa kursi dan meja yang sudah mulai rusak. Bisa dibilang sudah kurang layak ditempati, apabila hujan tiba rasanya seperti makan soto sambil mandi shower. Walaupun dengan tempat dan dagangan yang sederhana tetap saja Bu Aminah itu kaya. Kaya hati !

Pernahkan anda berfikir di tahun 2013 seperti ini masih ada orang menjual soto ayam dengan porsi standar pada umumnya dengan harga tiga ribu rupiah? Untuk sebungkus nasi putih tanpa lauk saja sudah 2000 rupiah. Bahkan di tengah kota harga nasi putih bisa 3000 rupiah. Kalau dilihat secara langsung sepertinya sudah jelas untung Bu Aminah ini tidak akan lebih dari 1000 rupiah, mungin hanya 500 rupiah per porsi.

Tapi disinilah letak kekayaan dirinya. Saya dua kali di gratiskan makan di tempat beliau hanya karena waktu itu telurnya habis. Seharusnya jatah satu porsi soto itu berisi suiran ayam, telur, dan kerupuk. Namun hanya karena telurnya habis Bu Aminah tidak mau dibayar, saat saya memberikan uang sejumlah 3000 rupiah beliau bilang "Ini ndak satu porsi nak, kan harusnya pakai telur, sedangkan telurnya ndak ada, sudah ndak usah nak..." kemudian saya memaksa "Loh, ibu kan jualan bu ya harus dibayar too, ga mau pokoknya saya mau bayar" Setelah berargumen saya pun menyerah. Tetap tidak mau dibayar. Bayangkan, kalaupun tanpa telur harusnya soto itu masih berharga 2000-2500 rupiah tapi dua kali beliau menggratiskannya untuk saya.

Setelah kejadian itu sepanjang jalan saya tidak berhenti mendokan Bu Aminah, benar-benar tidak berhenti sampai masuk kedalam kamar. Saya pun hampir menangis dengan kejadian sederhana pagi itu.

Inilah sebenar-benarnya orang kaya, yaitu mereka yang kaya hati. Tidak pernah menggangtungkan kehidupannya kepada dunia dan materi. Tidak ada sedikitpun rasa takut pada Bu Aminah, tidak ada rasa takut pada kesulitan hidup, karena mungkin Bu Aminah sudah belajar bahwa rezeki itu datangnya dari Tuhan dan dari arah yang tidak disangka-sangka. Semoga kita menjadi orang yang kaya. Kaya hati.

"Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya adalah hati yg selalu merasa cukup." HR Bukhari & Muslim.

5 The Janissaries: 2013 Menjadi kaya adalah impian setiap orang. Setiap orang memimpikan hidup yang sukses dan memiliki banyak harta. Di zaman materialis ini sudah ...

Tuesday, March 12, 2013

Fana

Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya di muliakan orang lain.”
(HR. Al Baihaqi)
5 The Janissaries: 2013 Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang y...

Monday, March 4, 2013

Pemimpin

Menjadi pemimpin itu memang amanah yang sangat berat. Sahabat Rasulullah Saw pun menangis ketika mendapatkan amanah yang sangat berat seperti ini. Lalu kenapa orang sekarang kok tampaknya gila kekuasaan? Semuanya rame-rame daftar buat jadi pemimpin negara, udah gitu saling sikut juga, saling dorong dan menjatuhkan buat dapet posisi diatas. Lantas jadinya kan kita bertanya-tanya “Terus gw pilih yang mana dong kalau gitu?”. Jangan khawatir, walaupun kita sulit mendapatkan pemimpin seperti di masanya para Sahabat setidaknya kita masih bisa memilih yang mendingan diantara mereka. Hehe
“Caranya gimana?” Nah berikut adalah beberapa kriteria pemimpin dalam Islam yang diambil dari kitab Al-Islam, Said Hawwa.
  • Seorang Pemimpin Harus Beragama Islam
    Tugas seorang pemimpin dalam Islam yaitu menegakan agama islam dan mengarahkan politik Negara sesuai dengan aturan-aturan Islam. Barangkali sudah jelas yang beginian ini hanya bisa dilakukan oleh seorang muslim yang meyakini agamanya dengan sungguh-sungguh, mengetahui dasar-dasar dan petunjuk Islam.

    “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (Wali jamaknya auliyaa, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah”
    (Ali Imran:28)
  • Laki-laki
    “Tidak akan sukses suatu kaum yang memasrahkan (kepemimpinan) mereka kepada wanita”
    (HR Bukhari, Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad)

    Kalau baca hadist ini mungkin sebagian cewe ada yang baru tau dan ngerasa, “kok gitu sih, kok dibeda-bedain, gender bet!!” Tenang aja.. Allah mana ada salah sih? Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kelebihannya masing-masing, tujuannya saling melengkapi kok. Untuk pembahasan lebih rincinya temen-temen boleh baca kitab Al-Islam Said Hawwa di Bab “Hakikat Laki-laki & Perempuan”
  • Akil Balig
    Sudah barang tentu seorang pemimpin itu harus Akil Balig. Ga boleh tuh anak kecil, Orang hilang ingatan, orang sakit jiwa mimpin Negara. Bayangin aja kalau Boyband Coboy Junior pada nyalon jadi Gubernur Jabar, temen-temen mau? Hehe. Kenapa ga boleh? Soalnya anak kecil, orang sakit jiwa, dan hilang ingatan tidak diminta pertanggung jawaban sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw.

    “Pena (pencatat amal) di angkat (tidak digunakan untuk mencatat amal) tiga golongan: anak kecil hingga ia sampai masa akil balig, orang yang tidur hingga ia bangun, dan orang gila hingga ia sadar. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Orang yang belum bisa menanggung dan bertanggungjawab atas diri sendiri, sudah jelas tidak mungkin bertanggung jawab atas diri orang lain.
  • Pandai
    Tentunya pemimpin harus pandai. Ada beberapa hal yang harus dikuasai seorang pemimpin. Yaitu ilmu Islam, pengetahuan ilmiah yang luas, pengetahuan umum, sejarah dan pengetahuan tentang Negara di dunia, undang-undang, politik, dan perdagangan Internasional.
  • Adil
    Dalam memimpin banyak orang tentunya akan bersinggungan dengan tipikal dan keadaan yang bermacam-macam, tentunya ini menuntut seorang pemimpin berlaku adil.
  • Mempunyai Kemampuan
    Kalau dalam memimpin ga boleh modal nekat ya, hehe pastikan temen-temen tau pemimpin mana yang bener-bener berkemampuan.
  • Sehat Jasmani
    Sebagian ulama mensyaratkan bahwa seorang pemimpin haruslah sehat dan tidak cacat karena dikhawatirkan akan mengganggu kemampuan kerja.
  • Syarat Tambahan
    Syarat tambahan ini boleh ada, ketika kondisi menuntut ditambahnya syarat karena demi kemaslahatan umum. Misalnya pemimpin harus memiliki tingkat pendidikan sejauh apa. Semuanya ditetapkan dengan musyawarah.

Setelah tau kriteria nya seperti apa kita sudah bisa lebih cerdas dong dalam memilih pemimpin kita, usahakan kita cari tau dulu sebanyak-banyaknya ya tentang orang yang mau kita pilih. Jangan pernah melihat seseorang dari “tampaknya” “kayaknya” atau “katanya”. Pastikan dan bismillah, pilih!!
Semoga Allah memaafkan atas segala kesalahan yang ada dalam artikel ini. Hanyalah Allah yang Maha Sempurna.
5 The Janissaries: 2013 Menjadi pemimpin itu memang amanah yang sangat berat. Sahabat Rasulullah Saw pun menangis ketika mendapatkan amanah yang sangat berat s...

Friday, January 11, 2013

Menjadi Dosen Kalkulus

-->
Pernyataan “tak pernah terbayangkan menjadi seorang dosen” mungkin kurang tepat untuk saya. Karena terbesit keinginan suatu hari saya menjadi seorang pendidik (guru, dosen, mentor, dll). Terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa penulisan ini adalah evaluasi saya terhadap pengajaran kelas Kalkulus dan Aljabar Linear yang saya terima di semester 3 ini. Tidak tepat juga sebagai ajang curhat dengan segala hal yang mungkin ada kurang, menurut saya itu wajar. Karena menurut saya apa yang saya terima sudah baik sekali. Mungkin ini hanya sekedar harapan saja bahkan ngimpi yang belum tentu berdasar, karena saya belum pernah merasakan menjadi dosen, semua cuma berdasarkan sudut pandang saya sebagai mahasiswa.
                Sedikit ngalor-ngidul, tertekan mungkin perasaan yang tepat untuk cukup banyak pelajar dan mahasiswa yang belajar di Indonesia. Dari SD, SMP, SMA, kita dipaksa menerima semua pelajaran dengan nilai yang harus sempurna juga, kita dituntut ini-itu. Akhirnya sampai kuliah kita tidak sempat meng-eksplor diri, “mau apa sih? mau kemana, mau jadi apa sih saya?” dampaknya kurang semangat ketika masuk dunia perkuliahan, sehingga belajar tidak bersemangat.
Kunci utamanya bukan terletak pada bagaimana cara dosen memberikan materi, tapi bagaimana mahasiswa di didik cara mendapatkan materi dikelas maupun tanpa terbatas lewat kelas saja. Bukan pula bagaimana mahasiswa agar belajar, tapi bagaimana mahasiswa mengerti cara belajar sebagai seorang mahasiswa. Intinya metode belajar yang saya tawarkan bagaimana mahasiswa suka dengan Kalin dan menjadikannya sebagai kebutuhan.
                Sudah 3 semester saya belajar di Jurusan Sistem Informasi. Saya menemukan beberapa dosen yang mungkin bisa dijadikan rujukan tentang bagaimana cara mengajar yang baik. Pertama Bapak Hatma Suryotrisongko, beliau punya metode belajar yang cukup berbeda dengan yang lain. beliau pandai dalam menguasai jalannya kelas, mengatur alur kelas secara professional, waktu belajar di plot-plot berdasarkan materi apa yang perlu disampaikan, sekian menit untuk mempelajari a, sekian menit untuk mempelajari b, dst. Ketika belajar dengan beliau saya selalu fun dan merasa harus belajar bukan terpaksa belajar. Rujukan kedua mungkin bapak Tony Dwi Susanto, beliau hebat dalam menyusun materi belajar, alur belajar yang beliau bawakan selalu dimulai dari yang namanya “konteks” dan tujuan belajar. Sehingga memang saya jadi tau kenapa harus belajar, akan dapat apa sih. Selain itu PPT yang dia bawakan sangat sarat akan prinsip Human Computer Interaction, sehingga materi lebih mudah diterima oleh mahasiswa. Yang ketiga adalah Bapak Nisfu Asrul Sani, yang berkesan dari beliau adalah cara mengajar yang tidak menyeramkan, saya bebas bertanya, dan bebas salah. Akhirnya timbul rasa ingin tau, bertanya ini-itu. Mungkin cara belajar yang ideal menurut saya adalah gabungan dari ketiga dosen yang saya ceritakan.
                Harapan terakhir dari saya adalah pendidikan yang sarat akan kejujuran dan kekeluargaan. Berdasarkan ujian-ujian kemarin saya melihat banyak yang masih saling tanya, mencontek, bekerja sama, kurang baik lah seperti itu. Menurut saya di Indonesia itu sudah banyak orang kaya, orang pintar dan pemimpin yang hebat tapi keadaan negara menggambarkan bahwa sedikit orang yang berakhlak. Lalu kekeluargaan maksudnya ketika ada mahasiswa bermasalah baiknya diajak bicara 4 mata secara langsung dengan dosen pengajar, mungkin tiap mahasiswa keluhannya beda dharapkan dosen bisa membantu memberikan solusi dan semangat.
                Terimakasih saya sampaikan kepada seluruh dosen kalin, sejauh ini saya merasakan apa yang diberikan sudah sangat baik, doakan saya semoga menjadi generasi penerus yang berkualitas sesuai dengan harapan ibu/bapak dosen. Semoga berkenan.
5 The Janissaries: 2013 --> Pernyataan “tak pernah terbayangkan menjadi seorang dosen” mungkin kurang tepat untuk saya. Karena terbesit keinginan suatu har...
< >